Jumat, 13 Februari 2015

How to Start Home Education (Review Diskusi dalam Grup Nasional HE-BPA)

Review Hasil Diskusi dalam Grup Nasional Home Education Berbasis Potensi dan Ahlak

Hari Rabu Tanggal 27 November 2014
Tentang “How to start HE”
Narasumber: Bpk. Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandari
Disarikan oleh Annisaa Nofita


Sebelumnya, mari kita awali dengan membaca ‘Renungan Pendidikan #1’ oleh Bpk. Harry Santosa
  Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yang paling kenal potensi keunikan anak2nya. Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yang paling mencintai dengan tulus anak2nya. Orangtua sejati adalah mereka yang menginginkan kebahagiaan anak2nya lebih dari apapun di muka bumi. 
  Dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak2 kita, tidak pernah melahirkan anak2 kita bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah swt sesaatpun juga, karena itu persekolahan bukanlah dunia yang sungguh2 mampu mengenal dan mencintai anak2 kita dengan tulus dan ikhlas.
  Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sebagai amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sebagai amanah yang akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.
  Membangun "home education" bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan. 
  Sayangnya banyak ortu yang menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak2 berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus. Obrolan ttg pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas2 sekolah yang dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yang anak2 kita miliki.
  Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak2 kita. Jangan sekali2 merubah fitrah kesejatian itu semua karena itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.
  
  
  Mendengar kata Home Education (HE), pertanyaan yang sering terlintas adalah ‘bagaimana cara memulainya?’. Padahal seperti yang disebutkan dalam renungan di atas, bahwa HE bukanlah hal baru melainkan sesungguhnya memang kewajiban kita sebagai orang tua, yaitu mendidik anak yang diamanahkan Allah pada kita. Dan pada dasarnya setiap orang tua yang diamanahi/dikaruniai anak, maka dengan sendirinya orang tua tersebut sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan Home Education. Amanah mendidik anak tidak bisa didelegasikan kepada siapapun dan menjadi tanggung jawab orang tua.
  Maka memulai Home Education adalah memulai untuk mendidik diri kita sebagai orangtua. Orang tua hendaknya melakukan tazkiyatunnafs (pensucian jiwa) untuk mengembalikan fitrah-fitrah baik yang ada dalam diri orang tua sehingga akan mudah bagi orang tua untuk menemukan dan membangkitkan fitrah-fitrah baik dalam diri anak. Apa yang keluar dari fitrah yang baik, akan diterima oleh fitrah yang baik. Tahapan tazkiyatunnafs ini sangat penting karena tanpanya akan membuat proses HE yang kita jalani menjadi rusak dan menjauh dari fitrah ( tidak lagi sejalan dengan fitrah iman, fitrah belajar, dan fitrah bakat dan perkembangan). Padahal setiap anak lahir dengan membawa fitrah tersebut, dan tugas orang tuanya untuk menemukan, membangkitkan dan menumbuhkan fitrah-fitrah tersebut untuk menjadi khalifah terbaik di muka bumi.
  Tazkiyatunnafs dapat kita mulai dengan banyak bertaubat, memperbaiki dan menambah kedekatan kita dengan Allah melalui ibadah dan amal sholeh, meninggalkan maksiat, waro terhadap yang halal dan menjauhi yang haram. Dengan melakukan perbuatan baik akan membawa keberkahan dan kesabaran dalam mendidik anak sehingga kita sadar dan dapat memandang anak kita dengan cara yang sesuai dengan fitrahnya, yakin dan baik sangka bahwa Allah melahirkan setiap anak dalam keadaan baik.
  Jadi tugas orang tua dalam HE adalah melakukan "inside out" yaitu membangkitkan fitrah2 dalam diri anak. Bukan proses penjejalan "outside in". Maka diperlukan jiwa-jiwa yang ridho dan ikhlas dalam menjalankannya sehingga memiliki pijakan dan pegangan yang kuat dalam menjalani proses HE yang seolah ‘melawan arus’ pemahaman pendidikan pada umumnya sekarang.
  Proses "Inside out" adalah dengan menyadari bahwa tiap anak telah terinstal setidaknya 4 fitrah utama, yaitu keimanan, fitrah pembelajar yang tangguh, fitrah potensi bakat, fitrah perkembangan dsbnya. Kemudian membangkitkan kesadaran atas fitrah itu dengan cara dan metode yang sesuai tahap perkembangannya. Contohnya untuk usia 0-7 tahun, dengan mencontohkan amal sholeh dan akhlakul karimah, menginspirasi kisah2 kepahlawanan orang2 besar, membangun imaji2 positif tentang Allah, tentang ciptaan Allah pada alam, pada diri, pada masyarakat dll.
  Akan tetapi memaksanya dengan flashcard, menyuruhnya membaca 1 buku sepekan, menargetkan belajar, memaksanya sholat dll adalah "outside in". Kita menjadi tidak yakin pada fitrah ciptaan Allah bahwa anak kita adalah pencinta ilmu, pembelajar tangguh, dll. Inilah yang disebut merusak fitrah karena ketidakyakinan orang tua akan karunia Allah swt. Sudah banyak riset yang membuktikan bahwa anak2 adalah pembelajar yang tangguh, kita hanya perlu membangkitkannya dengan menginspirasi, keteladanan, keikhlashan, ketulusan dsbnya.
  Pendidikan berbeda dengan persekolahan. Mendidik tidak sama dengan mengajar. HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan pula menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah sehingga anak2 akan beriman dengan sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dengan sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya.
  Mari kita tunaikan tanggung jawab kita untuk mendidik sendiri anak-anak kita. Home Education bukanlah pilihan namun kewajiban bagi setiap orang tua yang beriman. Masa mendidik anak kita hanya sebentar. Hanya ketika mereka mencapai usia aqil baligh. Namun bila dimasa singkat itu kita berhasil mendidik anak-anak kita, sungguh mereka akan membahagiakan kita selama-lamanya baik di dunia saat masa dewasa mereka, maupun di akhirat saat masa pertanggung jawaban amanah itu tiba.
  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..