Jumat, 13 Februari 2015

Tehnik Mendampingi Anak-Anak Usia 0-7 Tahun (Review Diskusi dalam Grup Nasional HE-BPA)

Review Hasil Diskusi dalam Grup Nasional Home Education Berbasis Potensi dan Ahlak


Hari Rabu Tanggal 17 Desember 2014
Tentang “Tehnik Mendampingi Anak-Anak Usia 0-7 Tahun”
Narasumber: Ibu Septi Peni Wulandani
Disarikan oleh Annisaa Nofita



  Usia 0-2 tahun adalah masa anak-anak mengikat bonding fisik dan psikis dengan kedua orangtuanya, terutama ibu yang menyusui. Kita boleh menganggap anak-anak sebagai seorang bayi "hanya" di usia 0-2 tahun, sehingga kita tidak lagi memperlakukan anak-anak di bawah 5 tahun (balita) sebagai bayi, contohnya: semua serba dibantu.
  Usia 0-2 tahun hak anak adalah mendapatkan makanan terbaik untuk fisiknya yaitu ASI, maka penuhilah secara tuntas. Sambil menyusui selalu masukkan harapan anda dari lubuk hati yang terdalam. Ayah pun harus memanfaatkan moment ini dengan ikut berpartisipasi aktif bermain dgn anak-anak usia 0-2 tahun. Berikan sentuhan kasih sayang ke anak, ajaklah mereka bicara menjelang tidur, tanamkan value keluarga anda kepada anak-anak sedini mungkin.
  Apalagi kalau ternyata kita memiliki dua anak yang sama-sama berusia antara 0-2 tahun, maka berbagilah tugas, ibu menyusui sang adik, kemudian memberikannya ke ayah setelah selesai menyusui. Kemudian ibu fokus bermain dengan si sulung agar tidak terjadi kecemburuan.
  Memasuki usia 2-7 tahun (thufulah) saatnya kita menanamkan ketauhidan dengan sangat kuat. Di usia inilah (2-7 th) anak-anak sedang membangun pola, maka jangan sampai salah. Berikan teladan yang benar. Hati-hati jangan sampai anak-anak gagap value di usia ini. Antara apa yg anda katakan dengan apa yg mereka lihat. Apabila anak-anak usia 2-7 tahun melakukan kesalahan, tidak bisa kita biarkan berlarut-larut, harus segera dibetulkan saat itu juga dengan cara yang baik, karena itu masa pembentukan pola. Apabila ayah dan ibu berbeda pendapat, maka tidak boleh terlihat di mata anak. Segera anda selesaikan berdua, empat mata untuk menyamakan value.
  Value keluarga yang kuat dalam keluarga akan mudah dicontoh oleh anak-anak. Value ini ditularkan bukan diajarkan. Sehingga ketika penularan pertama adalah hal baik, maka ketika ia tertular value akhlak di lingkungan luar yang kurang baik, imun tubuh anak akan meningkat, dan ia bisa mengatakan tidak.


    Cara mengembangkan fitrah anak di usia 0-7 tahun:
a. Tema utama adalah Kaya Wawasan, ajak anak untuk melihat seluruh alam dan seisinya.
b. Fitrah keimanan : mulailah mengenal Allah s.w.t dan menikmati segala kebesaranNya.
c. Fitrah Belajar : kuatkanlah bahasa ibu serta mengeksplorasi isi alam ini dengan kegiatan bermain bersama di alam. Bahasa ibu adalah komunikasi yang dipakai sehari- hari di rumah. Bahasa ibu ini tidak sekedar urusan grammar, lebih dari itu, karena bahasa ibu akan membangun imaji positif anak. Kita bisa mengajak anak-anak bersama teman sebayanya melakukan kegiatan bersama di alam, bukan main gadget bersama atau game online bersama. Biarkan mereka banyak bergerak fisik di alam.
d. Fitrah Bakat : tour de talent, ajak anak melihat segala macam bakat yang diberikan Allah ke setiap orang, sehingga fitur unik ini digunakan untuk menjalankan misi hidup. Lalu explore bakat anak. Contoh realnya bisa dengan mengajak anak mengenal berbagai profesi secara nyata untuk melihat keanekaragaman bakat yang ada di muka bumi ini, agar mereka kaya wawasan, sehingga kaya akan mimpinya untuk masa depan.
e. Fitrah Perkembangan : Gunakanlah pola rasul dalam menguatkan fisik anak, mulai pola makan, pola tidur, pola OR dll.

  Terkadang muncul perasaan bahwa menemani anak-anak (usia pra sekolah) full bermain di rumah itu bukan bagian dari 'mendidik', sehingga jadi 'setengah hati' dalam melakukannya. Maka untuk menyiasati hal ini kita harus merubahnya dengan ‘tidak sekedar menemani bermain’, kita dapat mempelajari berbagai referensi tahap perkembangan, kemudian membuat perencanaan, dan memberikan waktu khusus untuk anak yang tidak disambi dengan pekerjaan lain. Fokus seorang Ibu sangat diperlukan disini. Sehingga management waktu ibu pun ditantang disini. Ibu juga harus menjadi sosok kreatif ketika menemani anak bermain sehingga anak tidak bosan. Ibu dapat belajar tentang aneka macam permainan dan mengumpulkan anak-anak lain ke rumah. Jadi menyerahkan anak usia 2 tahun kepada orang/lembaga lain bukanlah suatu penyelesaian.


  Pada usia 0-7 tahun sebaiknya jangan terlalu dini mengenalkannya dengan sekolah. Kita lihat banyak fenomena akhir-akhir ini anak-anak sudah sekolah sejak bayi, sehingga hubungan bonding ibu dan anak menjadi tergerus seiring berjalannya waktu. Dan kita orang tua menjadi gampang "cuci tangan" untuk urusan pendidikan anak. Maka seharusnya yg mengenal sekolah sejak dini adalah orang tuanya, yaitu sekolah orangtua. Maka jika sudah terlanjur memasukkan anak ke TK & PAUD, segera evaluasi dan dipantau apakah iman- akhlak - adab - bicara anak-anak makin meningkat, rasa ingin tahu dan kreativitas nya naik? Akhlak mulianya naik? Kalau ya, lanjutkan, kalau tidak, ambil anak tersebut sebelum terlambat.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..