Senin, 16 Februari 2015

8 Tips Sukses Mendongeng


Ayah dan Bunda adakah yang merasa kesulitan mendongeng untuk ananda? Nah, diskusi grup WA IPC kali ini membahas tentang cara seru mendongeng, simak yuk :)




Sumber : Grup Islamic Parenting Comunity

Narasumber : Kak Idzma (Idzma Mahayattika)
Waktu Diskusi : Tanggal 13 Februari 2015
Disarikan Oleh : An Nisaa Nofita
Judul Diskusi : ‘Serunya Mendongeng’


Diskusi grup WA IPC kali ini adalah tentang ‘Serunya Mendongeng’ bersama Idzma Mahayattika atau Kak Idzma sebagai narasumbernya. Kak Idzma adalah seorang ayah dari 3 anak dan juga seorang Fasilitator, coach, counselor, trainer dan story teller. Ia membantu anak Indonesia untuk mengatasi masalahnya, mengenal kompetensinya dan menggapai mimpinya. Selain itu, Kak Idzma juga membantu orang tua dan Pendidik untuk mengenal anak-anaknya dengan baik. Kak Idzma juga mendalami ilmu seputar tumbuh kembang anak, pendidikan anak, coaching, storytelling, training, hypnotherapy, graphology, play art therapy, dll. Ia mempunyai mimpi ingin “anak Indonesia tersenyum ceria” sehingga untuk menggapai mimpinya itu, ia dan sahabat-sahabatnya membentuk Kidzsmile Foundation (yayasan Senyum Anak Indonesia).


Kita tahu selama ini imej mendongeng begitu kuat tertanam pada para pendongeng professional seperti Kak Bimo, Kak Kusumo, Kak Awam, Kak Ryan dll sehingga mendongeng seakan-akan merupakan hal yang sulit. Orang tua bahkan merasa kesulitan mendongeng bagi anaknya karena merasa tidak mampu mendongeng sehebat para pendongeng professional. Namun ternyata tidaklah perlu menjadi pendongeng profesional untuk bisa bercerita pada anak kita sendiri. Karena kegiatan mendongeng atau bercerita ini adalah aktivitas antara orang tua dan anak. Sehingga semua orang tua bisa mendongeng dengan gaya dan caranya sendiri-sendiri. Tidak harus seperti pendongeng professional. Jd setiap orang pun sebenarnya bisa bercerita. Hanya saja pertanyaannya, mau atau tidak?
Nah, agar Ayah dan Bunda semakin jago mendongeng untuk ananda, berikut 8 tips agar kegiatan mendongeng menjadi semakin seru dan menyenangkan:
1. Nilai Cerita. Memilih cerita untuk anak-anak haruslah yang sesuai dengan nilai-nilai yg kita anut. Misal kita sebagai muslim ingin anak-anak kita menutup auratnya maka sebaiknya kita tidak bercerita tentang princess atau tokoh putri ala barat. Selain itu, saat bercerita kita juga mengenalkan bermacam-macam sifat pada anak kita termasuk sifat yg tidak baik, namun yg kita fokuskan adalah menanamkan sifat-sifat dan karakter-karakter kebaikan.
2. Bahan Cerita. Ada begitu banyak hal yang bisa kita ceritakan kepada anak kita. Mulai dari sejarah, cerita rasul (siroh), hingga pengalaman kita dalam sehari tadi (misal perjalanan atau kegiatan kita bersama ananda). Jadi bercerita tidak melulu harus berupa dongeng atau cerita fiksi sehingga sumber dan ide bercerita bisa kita dapatkan dari buku atau kita buat dan kembangkan dari pengalaman kita sendiri.
3. Media Cerita. Selain jenis cerita, untuk balita salah satu yg perlu diperhatikan adalah penggunaan media cerita (alat bantu). Misalnya untuk balita, karena secara kognitif anak usia dini masih pra operasional (abstrak) sehingga anak balita membutuhkan media yg kongkrit (kelihatan dan nyata bentuknya) seperti boneka, buku, gambar dll. Kak Idzma juga memberikan tips memilihkan buku buat anak. Untuk anak usia dini maka sebaiknya kita pilihkan buku dengan banyak gambar dan sedikit kata. Lalu orang tua pun bisa berkreasi atau mengembangkan cerita dari gambarnya. Biasanya semakin besar anak, semakin banyak kata dan sedikit gambar dalam buku. Untuk anak usia dua tahun kebawah juga penting untuk memperhatikan bahan buku karena anak masih suka merobek dan menggigit. Selain buku yg banyak gambar, kita juga bisa bercerita dengan mainan kesukaan anak seperti motor, mobil, robot atau boneka sambil memberi serta menanamkan nilai moral di dalamnya.
4. Timing. Bercerita juga tidak harus ketika mau tidur, bercerita bisa kita lakukan kapan saja namun disarankan untuk bercerita sekitar 20 menit per hari. Jika memang akan bercerita ketika mau tidur maka pilihlah cerita yg santai dan buatlah kesepakatan dengan anak tentang berapa jumlah cerita yg akan diceritakan kemudian tidur setelah selesai cerita. Biasanya anak memiliki tokoh dan buku favorit sehingga bisa menjadi sumber cerita juga untuk kita.
5. Intonasi. Saat bercerita, orang tua juga tidak perlu mengganti intonasi suara dalam tiap peran jika memang tidak bisa. Kita bisa mengeksplorasi kemampuan kita dalam suara besar, kecil dan suara biasa kita. Kemudian untuk suara binatang kita bisa menggunakan suara binatangnya di awal dialog sebagai penanda siapa yg berbicara. Misalnya saat bercerita kucing dan bebek. Kucing : “Meooong bebek mo kemana?”. Bebek : “Wek wek wek mo kepasar”. Atau menggunakan prolog tentang siapa yg akan berbicara, sehingga walaupun suaranya sama, tapi anak tau siapa yg berbicara.

6. Fokus Anak. Anak usia dini memiliki fokus yg masih sebentar. Sehingga orang tua tidak perlu khawatir ketika bercerita tidak pernah selesai dan nampak didengarkan sambil lalu oleh anak. Kegiatan bercerita ini bisa kita mulai sejak anak berada dalam kandungan sehingga anak akan terbiasa dan menjadi kesempatan orang tua untuk menanamkan pesan-pesan kebaikan pada anak. Karena tanpa kita simpulkan hikmah dari suatu cerita pun, pada dasarnya anak akan mampu menangkap pesan cerita kita.
7. Kehidupan Sehari-hari. Memberi pesan untuk bercerita dengan asyik itu ketika kata-kata, intonasi suara dan gerak tubuh selaras serta menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari anak (misal cerita buku ttg hewan dihubungkan dgn pengalaman anak di kebun binatang). Sebisa mungkin libatkan anak dalam cerita, misal dengan eksplorasi gambar, anak ikut bikin cerita dll sehingga bersifat interaktif.
8. Attachment. Bercerita dengan anak di pangkuan atau dalam pelukan akan memperkuat attachment atau hubungan antara orang tua dan anak. Kegiatan membaca buku cerita juga bisa menjadi solusi buat Ayah yg sibuk untuk memperkuat hubungan dengan anak. Karena keahlian kita bercerita itu tidak penting buat anak. Namun yang penting bagi mereka kesediaan kita bercerita untuk mereka.
Beberapa cerita yg dibuat Kak Idzma yang mungkin bisa jadi referensi Ayah dan Bunda sekalian bisa dilihat di blog beliau disini.
https://idzma.wordpress.com/2013/09/16/pingping/
https://idzma.wordpress.com/2013/09/16/dongeng-dodi-suka-makan-sayur/
https://idzma.wordpress.com/2013/09/15/dongeng-belajar-puasa/
Demikian resume diskusi IPC kali ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca sekalian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..