Review Hasil Diskusi dalam Grup Home Education Berbasis Potensi dan Ahlak Kalimantan
Hari Jumat Tanggal 6 Februari 2015
Tentang “Bagaimana Memulai Home Education”
Narasumber: Ust. Harry Santosa
Disarikan oleh Annisaa Nofita
Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita. Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.
Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu. Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik. Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya. Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya. Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya. Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Pengaruh pendidikan di rumah sejak anak kita lahir sampai aqilbaligh sangat berperan dalam kehidupannya kelak. Jika kita melalaikannya maka pendidikannya akan diambil alih pihak lain, namun kitalah yg tetap diminta pertangungjawaban di akhirat kelak. Karenanya amanah HE dimulai sejak kita memilih pasangan hidup kita. Keshalihan dan akhlak yg baik memang tdk diwariskan namun ditularkan dan diteladankan
Silahkan dibuka surat 62:2.
Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya. (dalam Surat Al Baqoroh ayat 129:)
Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)
Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.
Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran" , "pensucian"
Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah). Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sedangkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge.
Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya. Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran. Pendidikan sebagaimana pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in". Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous. Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2. Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya...
Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini.
Banyak orang tua tidak mampu konsisten menjalankan teori2 parenting yg sudah dipelajari. Ketidak konsistenan ini dikarenakan orang tua seringkali terburu-buru langsung menuju ke teknis parenting. Kita tdk melihat dan paham "ultimate purpose" atau tujuan sejati, mengapa kita mendidik anak anak kita.
Itulah mengapa tazkiyatunnafs menjadi penting. Kemudian, pada prosesnya Tazkiyatunafs dan mendidik anak berjalan bersamaan dan timbal balik. Ketulusan mendidik akan menigkatkan iman dan mengembalikan fitrah2 kita yg tekubur, sementara fitrah yg membaik akan menjalankan proses mendidik menjadi semakin ringan, optimis dan konsisten.
Orang tua yg tdk menyadari adanya fitrah anak, maka makin tdk meyakini dan menolak mensyukuri, sehingga makin "obsesif" atau sebaliknya makin "pesimis", wujudnya mudah marah, mudah menyalahkan, kasar, tidak sabaran, merasa anaknya susah dan lemah dalam semua hal dsbnya.
Yakinlah bahwa, karunia anak, yg Allah swt berikan kepada kita adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki ruhani kita. Berapa banyak orang2 yg taubat karena luluh oleh kehadiran anak2nya. Siapapun bisa berbuat jahat apapun kecuali jika itu akan menimpa anak2nya. Maka mendidik anak sendiri adalah kesempatan berharga memperbaiki fitrah kita. Yakinlah, ketika Allah memberi sesuatu amanah maka pada saat yang sama Allah mengkaruniakan begitu banyak hikmah dan kekuatan bila kita meyakininya. Mustahil tidak ada yg dibekali dibalik amanah yg diberikan.
Optimisme krn kebersyukuran akan mengundang keberkahan. Kita akan jadi rajin bangun sholat malam atau shaum sunnah dll agar dikaruniakan keluarga yg sukses di dunia dan di akhirat. Jika bukan utk mendidik anak2 kita dgn tulus agar anak2 kita menjadi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, lalu utk apa kita ada di dunia?
Rencanakanlah program pendidikan anak2 kita, rancanglah framework operasional dan rencana harian. Buatlah visioning dream di dinding akan kemana keluarga kita dan anak2 kita kelak.
Banyak bersyukurlah dan banyak meyakini keMahaBaikan yg telah memberikan begitu banyak keindahan pada peran kita sebagai orangtua. Menjadi AyahBunda adalah peran terindah pada sisa usia kita. Semua yg kita lakukan di dunia bisa fana, kecuali anak2 yg shalihah yg kita didik dengan sepenuh2 ketulusan dan kecintaan.
Banyak bersyukur akan membuat kita banyak senyum, tenang, rileks, dan konsisten. Banyak yakin thd kebaikan Allah akan membuat kita tenang dan optimis, bahwa Allah akan membantu kita menjalani amanah mendidik anak dgn sebaik2nya. Mustahil bagi Allah memberi amanah namun tdk membekali hati dan dada kita dgn hikmah yg banyak, juga rezqi yg melimpah.
Pengaruh masa lalu, traumatis orangtua dll atas pendidikan sebelumnya jelas berlangsung, berulang, dan diwariskan. Karenanya harus diputus rantai kezhaliman ini dengan cara "menyembuhkan" atau tazkiyatunnafs agar kembali ke fitrah. Caranya bermacam2, dari memperbanyak sholat malam, shaum sunnah sampai kepada memperbaiki cara berfikir atau mindset dgn banyak belajar pendidikan yg sejati dll sampai kepada terapi untuk penanganan trauma dan depresi jika diperlukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..