Review Hasil Diskusi dalam Grup Nasional Home Education Berbasis Potensi dan Ahlak
Hari Rabu Tanggal 10 Desember 2014
Tentang “Konsep pre-aqil baligh usia 0-7 tahun”
Narasumber: Bpk. Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandari
Disarikan oleh Annisaa Nofita
Ayah bunda, esensi pendidikan sejati adalah pendidikan berbasis fitrah. Tugas kita adalah menemani anak2 kita menjaga fitrahnya (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan), menyadari fitrahnya lalu membangkitkannya menjadi peran2 sesuai fitrah yang Allah kehendaki itu. Inilah esensi pendidikan berbasis potensi dan akhlak. Dengan fitrah Allah itulah Allah menciptakan manusia. Tiada yang berubah dari ciptaan Allah swt
Topik diskusi pekan ini adalah pendidikan untuk usia 0-7 tahun. Tiap tahap memiliki sunnatullahnya sendiri, memiliki cara dan tujuan mendidik yang khusus.
Pendidik sejati adalah seperti petani sejati. Pendidikan ibarat taman bukan pabrik atau perkebunan. Para petani harus memahami tahapan menanam, dia mesti memperlakukan tiap bunga2 di taman, yang masing2 memiliki kekhasan, keunikan dan keindahannya masing2. Maka cara memperlakukannya pun setiap bunga adalah khas, tidak bisa seragam. Petani sejati harus rileks dan konsisten, dia tidak boleh bernafsu menggegas dan menyeragamkan demi produktifitas dan kepentingan siapapun yang tidak relevan dengan tanamannya. Petani sejati tidak boleh sembarang memakai bahan kimia yang menggegas pertumbuhan tanaman, yang malah merusak tanaman itu sendiri. Petani sejati harus meyakini qodrat Allah swt terhadap segala sesuatu yang ada pada tanamannya dan yang ada di sekitarnya
Dasar panduan kita adalah jelas, bahwa tiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tugas kita bukan merubahnya, merekayasanya, menuntutnya sesuai obsesi kita tetapi menemaninya.
Fitrah keimanan pada usia 0-7 tahun, disadarkan dengan membangun imaji2 positif, inspirasi kisah, bacaan bersastra baik, bahasa ibu yang sempurna (bahasa ibu yang dimaksud adalah bukan hanya pembiasaan, namun sampai pemaknaan logika dan perasaan. Bahasa adalah kemampuan mengekspresikan gagasan dan perasaan dengan tutur yang baik dan pesan yang sampai), banyak bermain di alam terbuka. Rasulullah saw ketika kecil hidup di gurun, mendaki bukit, menggembala kambing, bertutur fasih dari bahasa ibu yang murni, mengenal akhlak2 dan tradisi2 baik warga desa.
Bagi anak2 imaji2 positif penting, karenanya dilarang melakukan perbuatan keras yang merusak imaji2 ini. Contohnya ketika Rasulullah membiarkan Hasan dan Husein bermain kuda2an ketika beliau Sholat, membiarkan Aisyah kecil bermain boneka dan kain bergambar dstnya. Ini semata2 untuk melahirkan imaji2 positif, atau kesan2 baik tentang Allah, ttg ibadah, ttg dirinya, ttg orangtua (yang sementara dianggap Tuhan), ttg alam, ttg masyarakatnya.
Imaji2 positif yang baik akan melahirkan persepsi posiitif, dan persepsi positif akan memunculkan pensikapan yang baik ketika mereka dewasa kelak. Imaji2 negatif akan memunculkan luka persepsi, dan luka persepsi akan melahirkan pensikapan yang buruk ketika mereka dewasa kelak. Seorang pendidik yang arif mengatakan bahwa kesan baik sehari saja ketika anak2 akan menyelamatkan banyak hari ketika mereka dewasa kelak. Aqidah atau fitrah keimanan perlu dan sebaiknya ditumbuhkan dengan pola2 seperti ini.
Salah satu contoh menumbuhkan sikap baik sebagai berikut. Di mata anak usia 0-5 tahun kedua orang tuanya adalah sosok Tuhan. Setiap bayi lahir menangis, karena fitrah keimanannya menyebabkan setiap manusia membutuhkan sosok yang memberinya cinta, kehangatan, kekuatan untuk bersandar, tempat terbaik untuk bernaung dstnya. Jika mereka menjumpai ayah bundanya penuh cinta dan keihklasan, mereka akan mudah mencintai Tuhan dan Rasulnya. Imaji ini dahulu pertama kali. Setelah mereka memiliki imaji dan kesan2 cinta yang tulus dari ayah bunda, lalu ajak mereka ke alam untuk melihat alam ciptaan Allah, kenalkan harmoni di alam, air mengalir, tumbuhan merekah, anak2 ayam lahir, bintang2 di langit, gelombang laut dstnya untuk menumbuhkan kekaguman. Ajak berkebun dan berternak atau jalan ke pantai usia 2 tahun sangat baik. Tahap berikutnya ajak mereka mendengarkan kisah2 inspiratif yang membangkitkan rasa harmoninya dan kekagumannya pada kebenaran, keharmonian, kasih sayang, dstnya. Mereka akan menyadari dan bangkit cintanya pada Allah swt.
Fitrah belajar, juga demikian. Setiap anak yang lahir adalah pembelajar yang tangguh, para ilmuwan menyebut bayi yang lahir adalah scientist. Itu karena Allah telah mengkaruniai fitrah belajar ini pada setiap anak. Tidak ada bayi yang memutuskan untuk merangkak seumur hidupnya, ketika mereka belajar berjalan dan jatuh berkali-kali. Tugas kita, para orang tua sekali lagi, hanyalah menemani mereka, memberi semangat, menunjukkan hal2 yang baik, memfasilitasi, lalu rileks dan konsisten, tenang dan istiqomah, sabar dan syukur.
Bunda Septi memberi tips untuk membangkitkan kesadaran fitrah belajar ini dengan istilah intelectual curiosity. Penelitian2 modern menjelaskan bahwa anak2 akan bisa belajar mandiri hanya dengan diberi "jalan" saja, tidak perlu dijejalkan, tidak perlu banyak formalitas yang bahkan mengekang kebebasan, kemerdekaan memilih dan curiosity-nya. Ada ahli parenting yang bilang bahwa anak2 kita lebih pandai menjawab, daripada pandai bertanya.
Ingatlah bahwa setiap anak memiliki fitrah2 yang baik, tidak perlu dijejalkan apa2, hanya perlu ditemani dan dibangkitkan kesadaran2 fitrahnya itu. Tidak juga perlu stimulus yang belum waktunya, anak2 akan suka sholat, suka Al Quran, suka pada hal2 baik jika itu menjadi keseharian di rumah dengan ketulusan apa adanya, bukan kekakuan formal yang menegangkan. Alamiah.. yuk tetap rileks dan konsisten, ithminan dan istiqomah... cinta dan tulus bukan obsesif.
Tidak ada orangtua yang sempurna. Namun, sesungguhnya ketika Allah memberikan amanah anak kepada kita, maka ada begitu banyak hikmah2 yang ditanamkan di dada kita, begitu banyak jalan2 kebaikan yang Allah tunjukkan agar kita mampu memanfaatkannya untuk pendidikan diri kita sendiri dan pendidikan anak2 kita. Anak2 kitapun sudah terinstalasi berbagai fitrah kebaikan. Jadi mendidik anak sesungguhnya mudah, bahkan kedekatan ayah bunda semakin baik bila keduanya urun tangang, urun hati, urun fikiran, urun perasaan dalam mendidik anak.
Untuk mendidik anak2 hanya diperlukan keyakinan seperti di atas, kemudian cinta dan ketulusan mendidik anak2 kita. Itulah mengapa syarat pernikahan adalah aqidah yang baik dari kedua orangtuanya, dan syarat mendidik adalah mensucikan jiwa kita dahulu sbg orangtua.
Tips Mendidik dari Ustadzuna Adriano Rusfi:
Parenting seharusnya tidak untuk menakut-nakuti para orangtua tentang sulitnya mendidik anak. Parenting seharusnya untuk meyakinkan para orang tua betapa mudahnya mendidik anak, dan setiap orangtua mampu melakukannya.
Bukankah Allah telah mengilhamkan ke dalam dada para orangtua tentang hikmah-hikmah mendidik anak, bahkan ketika sang anak masih dalam rahim ibunya ? Sungguh, mendidik anak adalah naluri, bukan kecakapan akademis.
Modal utama mendidik anak adalah cinta dan ketulusan, dan itu adalah karunia Allah bagi tiap ayahbunda. Keduanya perlu dibangkitkan, bukan diajarkan. Jadi, mendidik anak itu mudah... Mari kita didik sendiri anak-anak kita...
Dari sisi beban tanggung jawab agamanya, maka perjalanan hidup manusia terbagi dalam tiga periode : masa pra-latih (di bawah 7 tahun), masa pelatihan/tadrib (7 - 12 tahun), dan masa pembebanan/taklif (di atas 12 tahun).
Maka orangtua yang bijak adalah orangtua yang menempatkan sang anak pada tempatnya. Mereka tak akan membebani anak sebelum masanya. Dalam hal ini tak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik.
Hendaklah para orangtua takut akan datangnya Hari Pengadilan, di mana seorang anak mengadukan orangtuanya kepada Allah, karena mereka dipaksa latih sebelum waktunya, dan dibebani taklif syar'ie sebelum waktunya.
#SeriParenting



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..