Kamis, 20 November 2014

Diskusi tentang Home Education

Artikel ini merupakan rangkuman dari hasil diskusi dalam Grup Nasional Home Education Potensi dan Ahlak pada hari Rabu Tanggal 12 september 2014.

"Apa itu Home Education"
Narasumber: Bpk. Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandari

Tanya:
Beberapa waktu lalu Bapak Menteri Pendidikan kita melempar wacana mengenai wajib belajar (baca: wajib sekolah) 12 tahun. Lebih jauh ada wacana pemberian sanksi untuk keluarga yg tidak mengirimkan anaknya ke sekolah. 
Jika memang wacana itu benar, bagaimana sebaiknya kita bersikap? karena HE atau HS sejauh ini sudah diakui negara dan tercantum dalam UU Sisdiknas.

Jawab:
(Jawaban Teh Winda)
Kabar baik, bahwa Mendikdasmenbud Anies Basweda menyatakan mendukung dan ingin serius mengupayakan salah satu program pokja pendidikan untuk membuat gerakan semacam sekolah orang tua agar terlibat dalam proses tumbuh kembang anak, orang tua dibekali skill memahami tugas-tugas perkembangan anak sehingga urusan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab di sekolah saja.
Namun perlu disadari bahwa bagi kebanyakan Ortu, mendidik anak diartikan dengan mengajar anak. Para Ortu berfikir bahwa mendidik anak adalah yg pertama mengajarkan akademis spt calistung, matematika, fisika dll lalu plus yg kedua adalah berusaha mengajarkan agama agar anak2nya sholeh secara status, sepertt penurut, pendiam, tidak nakal dstnya.

Yg pertama membuat anak dan ortu stress mengejar nilai rapot, dan yg kedua membuat anak dan ortu terjebak kepada status moral bukan 'amal manfaat’. Mereka stress karena berfikir mendidik adalah menjejalkan semua hal sebanyak2nya utk dikuasai. Mereka tanpa sadar menjudge bhw anak2 mereka lemah semuanya dan dilahirkan tanpa fitrah apapun.
Sesungguhnya mendidik adalah upaya alamiah fitrah dan amanah utk mengeluarkan (inside out) fitrah2 baik dari diri orangtua dan diri anak2nya dengan cara membentuk kesadaran keimanan, kesadaran misi penciptaan lewat bakat dan karakter, kesadaran menyempurnakan akhlak dstnya. Sehingga kita, ayah bunda dan anak2 kita mampu menjalani peran peradabannya atau misi penciptaannya dengan sebesar2 manfaat dan rahmat, bukan sebanyak2 gelar dan status.

Jadi mendidik Ortu, bukan mengajari ortu hal2 kognitif, namun memberikan mereka kesempatan utk membangun kebersamaan dgn anak2nya (seperti tunjangan cuti hamil dan cuti menyusui 2 tahun), memberi kepercayaan diri utk mendidik anak2nya, memberikan wawasan terhadap tahap2 perkembangan pertumbuhan aspek fisik, mental, psikologis, dll serta roadmap dan guidance detail mendidik anak sebagaimana dimaksud dengan pendidikan sejati, bukan pengajaran persekolahan akademis.
Intinya adalah mengembalikan peran pendidikan peradaban para Orangtua.


(Jawaban Bapak Harry Santosa)

UU di Indonesia sesungguhnya mengakui pendidikan formal, informal dan nonformal. Intinya tidak me"Wajib Pendidikan Formal" tetapi menyediakan HAK BELAJAR bagi semua rakyat Indonesia.
Entah mengapa Kewajiban Negara menyediakan Hak Belajar, kemudian berubah menjadi Wajib Belajar, dan ujung2nya menjadi Wajib Sekolah (pendidikan formal)

Karena itu Anies Baswedan juga sedang bingung krn tidak ada Payung Hukumnya utk memaksa orang Wajib Sekolah. Negara mengakui pendidikan informal dan nonformal, artinya orang boleh tidak bersekolah formal. Namun kenyataannya, kita semua digiring utk menyekolahkan anak kita di sekolah formal. Bahkan banyak HS yg kemudian, berubah menjadi Bimbingan Belajar utk memperoleh Ijasah Kesetaraan, yg ujung2 nya dipaksa utk menjadi Formal juga.



Tanya:
1. Bagaimana meyakinkan suami & keluarga tentang HE? Karena kita butuh komitmen suami dan keluarga untuk berpartisipasi dalam HE.

2. Bagaimana meyakinkan teman/para ibu tentang HE? Sebagian teman IRT berpendapat sekolah umum lebih baik karena selain guru itu lebih pintar & memang dilatih untuk mendidik, IRT juga minder krn mungkin kurangnya pendidikan. Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumah, atau belum tinggal mandiri masih bersama ortu & saudara yg lain. Beberapa teman adalah istri yg bekerja, beberapa dari mereka merasa HE bukan untuk mereka.

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
Belajar itu Wajib, namun tidak ada satu ayat atau hadits pun yg mewajibkan bersekolah. Persekolahan adalah lembaga yg dilahirkan karena tuntutan era industri untuk mencetak sebanyak mungkin skill labour dan knowledge worker. Karakter, bakat, akhlak menjadi sesuatu yg tdk penting pada era industri.

Oleh krn itu Ki Hajar Dewantoro, KH Ahmad Dahlan, dll melakukan perlawanan atas sistem persekolahan industrial yg dibawa Belanda lewat politik etis tahun 1901.
Ki Hajar Dewantoro (KHD) dan KH Ahmad Dahlan, menyuarakan agar pendidikan kembali kepada kesejatiannya yaitu membangun akhlak dan fitrah manusia termasuk fitrah alam dan keunikan lokalitas. Dalam bahasa KHD, fitrah disebut Kodrat Anak dan Kodrat Alam serta Kodrat Masyarakat.
Mohon maaf, model pendidikan Taman Siswa dan Muhammadiyyah hari ini sudah 100% meniru persekolahan Belanda. Sisa2 pendidikan yg digagas Muhammadiyah tempo dulu, masih terekam dalam Novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Fokusnya hanya 2, yaitu akhlak dan bakat.

Sebaik meyakinkan pasangan, baik suami atau istri adalah bahwa sebaik2 pendidikan adalah yg selaras dgn fitrah. Perintah menjaga fitrah anak adalah perintah agama. Sebaik2 makhluk di muka bumi yg diberi amanah utk menjaga fitrah adalah Ayah dan Ibunya, Rumah dan Keluarganya.

Menjawab bahwa guru lebih pintar dari ortu, tentu iya utk pengajaran mata pelajaran.
Pendidikan berbeda dengan Pengajaran. HOME EDUCATION atau Home Schooling yg benar adalah tidak memindahkan pelajaran sekolah ke rumah. Kalau utk pelajaran sekolah, mohon maaf guru2 bimbel jauh lebih pintar dari guru sekolah. Guru2 bimbel juga masih kalah luas dan dalam dibanding pengetahuan yg ada di dunia maya dan ditangan para maestro.



Tanya:
Salahkah kalau saya berpendapat bahwa HS tidak sama dengan HE?

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
HS bisa mirip sama HE jika fokus pd bakat dan akhlak. Tetapi umumnya HS itu lebih mengutamakan belajar secara bebas dari kehidupan, sebagian HS malah menyimpang dgn memindahkan pelajaran sekolah ke rumah. Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yg baik dgn cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah2 baik itu (inside out) yg Allah karuniakan kpd anak2 kita. Diantara Fitrah itu adalah bahwa tiap anak yg lahir adalah pembelajar yg tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai, rangking dll.

Namun fitrah juga meliputi fitrah keimanan/kesucian, bahwa tiap anak menyukai kebenaran, keadilan, menyukai Zat Yang Maha Hebat, membenci kezhaliman, kekasaran, dstnya.
Selain itu Fitrah juga meliputi Bakat/Talent, bahwa setiap anak dilahirkan dgn sifat2 unik yg produktif yg merupakan misi penciptaannya dan peran spesifiknya sbg Khalifah. Orang menyebutnya panggilan hidup.

Ada lagi fitrah yg terkait tahap2 perkembangan anak sesuai kronologis usianya. Inipun fitrah yg menjadi hak anak2 utk dipuaskan dan dikenyangkan hak pendidikannya pd tiap tahap usianya. Semua fitrah itu diamanahkan utk dijaga dan dididik, utamanya kpd ayah bunda, lalu kpd setiap anggota keluarga (kakek, nenek, paman, bibi, kakak dll) serta komunitas sekitar (ulama, pemimpin, tetangga dll) utk bersama mendidik anak2 pd komunitas itu sesuai fitrah2 di atas.

Masalah terbesarnya adalah kita menyangka bahwa mendidik adalah mengajar, belajar adalah bersekolah. Obyek nya adalah akademik, ukuran suksesnya adalah nilai dan ijasah serta gelar.

Kebanyakan keluarga2 sudah kecanduan menitipkan anaknya pada lembaga dengan alasan tidak mampu mendidik (dalam benak mereka disuruh mengajar matematika, fisika dll). Saya paham bahwa banyak keluarga yg ayah ibu nya terpaksa harus bergelut dgn nafkah, sehingga lebih memilih menitipkan anaknya pd lembaga. Tetapi sebagian keluarga yg ekonominya cukup juga turut menitipkan anak2nya pada lembaga. Makin banyak income nya, makin dipilih lembaga yg mahal dan bergengsi karena dianggap berkualitas



Tanya:
Untuk keluarga yg orang tuanya bergelut dgn mencari nafkah, bagaimana untuk mencapai hal ideal yaitu bisa full time bersama anak? Apa mungkin dilakukannya bertahap?

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
Utk keluarga2 yg terpaksa harus mencari nafkah karena miskin, menitipkan anak pada lembaga sekolah adalah darurat. Diupayakan tidak selamanya demikian, bertahap diusahakan, atau diupayakan membentuk komunitas/jamaah HE sehingga bisa kolektif bergantian mendidik. Islam membolehkan bahkan menganjurkan agar sesekali menitipkan anak pd keluarga shalihah dimana sosok ayah dan ibu lengkap hadir. Mohon maaf, pendidikan anak sampai menjelang aqil baligh, menurut saya tdk bs didelegasikan pada siapapun, kecuali terkait pelengkap seperti skill dan knowledge.



Tanya:
Orang tua sebagai coach setelah anak aqil baligh itu apa maksudnya seperti apa?

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
Saya lebih suka menyebut peran ortu setelah anak aqil baligh sbg senior Partner, bisa juga diartikan sebagai Coach. Itu sesuai dengan ucapan Sahabat Nabi bahwa 7 tahun ke 3, berarti usia 14-21 tahun, anak kita menjadi "teman". Tentu saja teman, krn secara Syar'i, anak yg telah mencapai aqil baligh di usia 14--15 tahun, sdh menjalani Sinnu Taklif, masa2 pembebanan kewajiban syariah. Artinya kewajiban syariah kita dan anak2 kita, tiba2 menjadi setara, yaitu kewajiban dalam ibadah seperti sholat-zakat-haji, kewajiban dalam dakwah, kewajiban dalam jihad, termasuk kewajiban2 dalam urusan nafkah, dan muamalah lainnya.

Semua ulama, setahu saya sepakat, bahwa anak2 yg sudah aqil baligh tidak wajib dinafkahi lagi. Jika ada anak kita yg sudah aqil baligh, atau usia di atas 14-15 tahun masih dinafkahi, maka itu namanya sedekah, krn statusnya fakir miskin. Nah disinilah perlunya peran Coach atau partner utk mendampinginya mandiri dalam kehidupan sebenarnya.

Ada jurnal ilmiah psikologi yg menyebutkan bahwa anak2 yg sudah aqil baligh menyukai jika dia dianggap sbg orang dewasa yg setara. Kenakalan2 dan kegalauan mereka diakibatkan karena mereka selalu dianggap bocah padahal sudah berusia 15 tahun, bahkan sampai 25 tahun masih dianggap bocah.

Mereka memerlukan pengakuan dan tugas2 sosial dan bisnis agar mereka merasa eksis dan percaya diri menjalani kedewasaannya. Rasulullah SAW bahkan mulai magang dan menjadi partner bisnis Pamannya sejak usia 9-10 tahun. Setiap pemuda memerlukan pembimbing hidup, kehidupan dan akhlak



Tanya:
Apakah kita perlu menanyakan kepada anak untuk meng-HE-kan anak atau itu hak kita sebagai ortu yg wajib menentukan pendidikan anak kita? karena anak sy bilang kepada sy ingin sekolah.

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
Istilahnya bukan meng-HE-kan anak. Krn tanpa meng-HE-kan anak pun, sejak dalam kandungan sampai lahir pd galibnya sdh HE. Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqilbaligh, kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqilbaligh.

Bagi saya, pertanyaannya apakah anak itu wajib HE, ya jelas wajib. Apakah wajib sekolah, maka jawabannya tergantung.
Yang bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan formal dapat berkembang optimal di keluarga dan komunitas atau di sekolah??

Bagi saya ada anak2 yg cocok dengan model belajar di sekolah formal, biasanya mereka berfikir terstruktur, sangat kognitif, sangat formal, otak kiri banget dll Silahkan saja. tetapi tetap saja banyak aspek fitrah lainnya tdk bisa diserahkan pd sekolah forma. Utk usia 0-7tahun, fokus HE tetap pada 3 fitrah itu... aqidah dan akhlak, belajar dan bakat



Tanya:
Berarti sekolah boleh hanya untuk skill dan knowledge ya Pak? Itupun kalau sejalan dengan fitrah anak?

Jawab: (Bpk. Harry Santosa)
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah.... siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan.

Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu. Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas. Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu... mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah.

Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah... tidak tergantikan di dunia dan di akhirat.

Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll. AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA'DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut.

Sebaik2 guru adalah kedua ortunya.
Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro.
Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah.
Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah.
Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.

Ya syarat semuanya tentu saja para ortu dan pendidik mesti memperbaiki ruhiyahnya, atau tazkiyatunnafs. Ruh yg baik akan bertemu dgn ruh yg baik, fitrah baik anak2 kita akan bertemu dgn fitrah baik dari kedua orangtuanya. Apa yg disampaikan dari ruh akan sampai di ruh, apa yg disampaikan dari mulut saja maka akan berhenti di telinga saja.

(Ibu Septi Peni Wulandari)Sering sekali muncul pertanyaan ttg Ibu Bekerja vs HE.
Jawaban saya semua ibu baik yg bekerja di ranah publik maupun di ranah domestik, wajib menjalankan HE. Caranya, berusahalah meluruskan niat terlebih dahulu, apakah keluarnya kita dari rumah membuat iman, akhlak, adab anak2 kita lebih baik.

Kalau ya, maka boleh kita lanjutkan, dan energi kita harus dobel, istilah mobil dobel gardan. Management waktu harus ditingkatkan, kalau kita berangkat kerja cantik, harum dan sabar, maka pulang harus lebih cantik, lebih harum dan lebih sabar. Jadilah anda manager pendidikan anak2, manager gizi anak2, dll sehingga ketika anak kita delegasikan ke pihak lain selama kerja, masih di bawah management kita.

Kalau tidak sanggup dobel gardan maka pilih salah satu.

Demikian juga untuk single parent, harus memanage dg sangat bagus. Saya dididik ibu single parent sejak kls 2 SD, beliau tdk pernah marah, kalau sedang sedih di dalam kamar, menurut ibu saya, kamar itu back stage, keluar kamar sdh on stage.

Dress up 7 to 7 itu tidak harus rapi terus sepanjang hari, yg terpenting adalah momen berubah, dari yg ala kadarnya menjadi bersungguh-sungguh. Yg menyedihkan kalau sudah rapi justru tidak mau bermain dengan anak2. Hal tersebut keluar dari esensi utama.

Maka sebaiknya seorang Ibu memang fokus. Maka seorang ibu perlu ilmu management waktu dg SANGAT baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan meninggalkan komentar positif dan membangun untuk blog ini. Jazakumullah..